Juga, seperti lalu-lalu, saya membawanya ke kawasan sekolah seni Kunstakademie Dresden. Berdiri di sana, seperti melihat satu konfigurasi apik tata kota dengan bangunan-bangunan kuno. Di depannya mengalir Elbe, sungai yang selalu saja membuatmu charming, bahkan saat daun-daun rontok dimakan dingin. Semoga nanti, si nona manis tidak pernah marah lagi, agar air sungainya tak luber ke lorong-lorong kota.
Dresden yang baik,
saya tak bakal pernah lupa, tiga tahun lalu, saat penjaga museum seni Staatliche Kunstsammlung dengan suara Jermannya yang khas berteriak pada saya, “Jangan sentuh itu, anak muda!“. Kau tahu benar, bagaimana bila seorang petugas Jerman berteriak di dalam museum yang sunyi. Sungguh, ketika ia memergoki, saya sekedar menunjuk, dan tak hendak menyentuh apa-apa. Betapa pengalaman di salah satu museum seni terpenting di dunia itu demikian membekas.
Dalam batin, saya juga menyimpan kekhawatiran, setiap kali melintas di depan Saechsischer Landtag. Kau barangkali juga tahu keprihatinan itu: terdapat delapan kepala kacang polong, wakil jaman batu, di dalam gedung DPRD Saxony itu.
Saya tak ingin sedikitpun mengurangi kekaguman dia atasmu, atas bangunan gereja Frauenkirche elegan itu misalnya, atau atas gedung opera Semperoper masyur, yang baru saja kami kunjungi.
Sonny
Catatan tulisan
"Delapan kepala kacang polong, wakil jaman batu" adalah ekspresi yang saya gunakan, untuk delapan anggota NPD di Parlemen Saxony. Nationaldemokratische Partei Deutschland (NPD) adalah partai kanan yang rasis, anti orang-asing, dan memaksakan keutamaan nilai, karakter, kepentingan bangsa Aria.
Partai ini sering disebut partai Neo-Nazi dan fasis. Di Jerman, ia ditempatkan sebagai kekuatan politik anti-demokrasi. "Fasisme" di Jerman berkembang khususnya setelah Perang Dunia Pertama.
Pembakaran buku, penutupan tempat ibadah, pembubaran paksa, pelarangan ajaran atau interpretasi lain, kebencian dan pembunuhan berbasis ras, agama dan lain-lain, merupakan beberapa praktek yang lazim ditemukan dalam fasisme. Dari contoh-contoh ini, terlihat bahwa atribut penting fasisme adalah intoleransi atas misalnya pandangan, agama, keyakinan, sistem, yang lain.
Fasisme menyandarkan diri pada pentingnya kekuasaan negara dan mobilisasi massa.
Seruan solidaritas di bawah fasisme bukanlah berdasar pada solidaritas kemanusiaan yang universal, tetapi solidaritas bersyarat, seperti - tetapi tidak terbatas pada - kesamaan ras, agama, dan sebagainya. Saat Hitler berkuasa di Jerman, fasisme lebih berorientasi ras.
Keterangan foto, atas ke bawah
[1] Kompleks Kunstakademie Dresden, disamping sungai Elbe.
[2] Residenzschloss dan Gereja Kathedrale Dresden, di belakang pohon-pohon tanpa dedaunan.
[3] Jembatan Neo-barok, antara gedung Residenzschloss dan katedral St. Trinitas (tak tampak dalam gambar).
[4] Samping gereja Frauenkirche, dilihat dari jauh.
[5] Saya, di depan Fuerstenzug, lukisan porselen terpanjang di dunia, di lorong jalan Augustusstraße.
Kredit foto [1,3, dan 5] F Thufail, [2 dan 4] SM.
Untuk melihat lebih banyak foto lagi, klik sini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar